You are here: Home

LIMA SENIMAN INTERNASIONAL MEMBINGKAI KISAH DUNIA

E-mail Print PDF

Tepatnya pada 19 Agustus 2009, penampilan seni performa lintas negara dimulai. Meski sempat mundur selama satu jam, ini dibuka dengan penampilan sosok Atieq yang menampilkan A Face Of Nations yang menggambarkan suatu bentuk pemerintahan.

 

Dalam penampilannya, muncul sosok seorang kepala pemerintahan, orang yang dipercaya dalam pemerintahan, dan dijelaskan pula bagaimana ketika ia harus mempertahankan pemerintahan. Atieq menunjukkan semuanya itu dengan bendera- bendera negara berukuran kecil yang ditempelkan penonton pada tubuhnya. Ia mengumpamakan tubuhnya tersebut sebagai suatu negara. Dimana politik dari tiap- tiap negara itu ada dalam tubuhnya sendiri.

Acara Penampilan kedua adalah dari seorang pakar teknologi, Benny Wicaksono. Pria asal Tulungagung ini menampilkan dirinya sendiri serta wajah dunia lewat teknologi yang telah ia kuasai selama 10 tahun.Kepekaannya pada dunia teknologi ia tunjukkan lewat seni performanya yang berjudul Switch On. Dari sini ia berharap orang lain tahu bahwa teknologi adalah seni ketika kita mampu menikmatinya sebagai sebuah seni, sehingga menghasilkan karya yang luar biasa. Bahkan buku pun dapat dijadikan sebagai alat teknologi.

Setelah penampilan memukau dari Benny, tak terlewatkan juga penampilan dari seseorang asal Filipina, Marks yang berjudul National Museum. Dalam karyanya tersebut, ia menggambarkan beberapa benda pada tembok, kemudian penonton diminta untuk menambah beberapa benda dalam gambarnya itu. Selama 3 hari ia akan terus meminta penonton untuk menambahkan
beberapa gambar, dan pada hari ketiga, ia akan membuka acara tersebut.

Ketika ditanya mengenai apa yang menjadi inspirasinya, ia menjelaskan, terinspirasinya itu muncul dari sosok orang tua yang membuat gambar-gambar di tembok. Sehingga ia akan menjadikan gambar- gambar di temboknya untuk museum.
Dunia juga bisa diekspresikan lewat apa saja, termasuk penampilan dari Demosthenes Agrafiotis dari Yunani. Ia menampilkan dunia lewat empat elemen, yakni air, udara, tanah, dan api. Namun, Demos rupanya tidak menampilkan semua elemen itu.
Ia hanya menampilkan air sebagai sumber kehidupan manusia. Perfomance art dengan judul Water Empedocles ini menampilkan ikan yang berada dalam air yang bersih, serta mengumpamakan bir dan susu dalam gelas yang berbeda sebagai air yang telah tercemar. Demikian pula ia menaruh beberapa buah benda dalam air bersih untuk mengumpamakan banyaknya sampah yang telah mencemari air bersih.

Penampilan terakhir adalah dari Paul Griant. Dengan judulnya Silence. Dalam pertunjukannya, ia mencoba diam selama 24 jam penuh untuk menunjukkan bagaimana respon orang lain ketika dia terdiam begitu lama tanpa bicara dan hanya tubuhnya saja yang bergerak. Dari situ juga dijelaskannya, bahwa ia ingin mengalami perjalanan spiritual. (Bundo)